Selalu ada peluang

Dikutip dari Website Kementrian Perdangan RI – Tekstil dan produk tekstil Indonesia bernilai USD 10 miliar. Jika kita fokus mendorong produk baju muslim untuk berkembang, 10 tahun lagi bisa mencapai USD 40 miliar. Nilai ini akan terus bertambah karena dipacu oleh peningkatan permintaan dari pasar Eropa maupun global yang mencapai 96 miliar dolar AS per tahun. … (Info PDN)

Wujudkan Indonesia sebagai Kiblat Fesyen Muslim Dunia 2020 Menurut data Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC), saat ini jumlah ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia bernilai USD 10 miliar. Jika kita fokus mendorong produk busana Muslim untuk berkembang, 10 tahun lagi bisa mencapai USD 40 miliar. Nilai ini akan terus bertambah karena dipacu oleh peningkatan permintaan dari pasar Eropa maupun global yang mencapai 96 miliar dolar AS per tahun. Melirik Potensi Busana Muslim Indonesia Mayoritas masyarakat Indonesia adalah pemeluk agama Islam. Dan sekitar 25 persen dari seluruh umat muslim di dunia berasal dari Indonesia. Dengan demikian betapa banyak dan besarnya potensi yang terkandung di dalamnya. Tak heran, perkembangan industri kreatif yang berhubungan dengan gaya hidup Islami terus berkembang. Industri busana muslim misalnya, bergerak menjadi industri garmen yang paling menjanjikan dan telah membentuk pasar tersendiri. Saat ini terjadi perubahan paradigma masyarakat terhadap busana muslim. Busana muslim ini tak lagi dipandang sebagai identitas yang eksklusif, namun telah menjadi lebih terbuka bagi semua kelompok muslim di Indonesia. Busana muslim tak lagi dianggap norak dan terbelakang. Dengan berbagai macam ekplorasi desain dan mode, busana kebanggaan umat Islam itu mulai menggebrak perdagangan fashion dunia. Bahkan sebuah pusat studi mengenai busana, French Fashion University Esmond, Dubai, mengungkapkan, bahwa busana muslim kini merupakan salah satu ikon dalam bisnis fashion global. Menurut direktur lembaga tersebut, Tamara Hostal, transaksi global busana muslim setiap tahun mencapai 96 miliar dolar AS. Saat ini, kita melihat betapa busana yang berakar dari tradisi Arab itu mewarnai jalanan di Eropa. Hal ini, dinilainya, tidak terlepas dari kebangkitan kelas menengah muslim dunia. Daya beli mereka yang kuat juga menjadikan pasar busana muslim menjadi semakin terbuka. Secara tak langsung mereka telah menciptakan pasar busana muslim ke seluruh dunia. Kesadaran akan Islam di kelas menengah, juga menjadikan banyak kalangan mencoba menyesuaikan gaya hidup modern dengan tradisi Islam. Ini menjadi rangsangan tersendiri bagi tumbuhnya perdagangan busana muslim di ranah global. Tak hanya di negara yang mayoritas penduduknya muslim, pertumbuhan pasar busana muslim juga terjadi di Eropa. Contohnya, di Inggris terdapat sekitar 1,5 juta muslim. Dengan jumlah itu, diperkirakan transaksi busana muslim bisa mencapai 150 juta dolar AS dalam setahun. Dan dengan total umat Islam sebanyak 16 juta jiwa, omzet perdagangan busana muslim di Eropa bisa mencapai 1,5 miliar dolar AS per tahun. Tak hanya dari sisi pasar, model atau desain busana muslim saat ini juga berkembang sangat maju. Sebut saja desainer tenar, seperti Hermes dan Gucci, mereka kini juga mencoba masuk pasar busana muslim dengan menciptakan produk kerudung dan lainnya. Menurut Direktur Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC), Gilarsi Wahju Setijono, “Di Indonesia setiap tahunnya mengalami tren peningkatan dari segi penjualan.” Contoh kecil saja, pemakai kerudung yang kian hari bertambah. Secara otomatis, nilai penjualannya pun akan meningkat. Sesungguhnya banyak sekali peluang bisnis yang dimiliki bangsa Indonesia. Dan salah satu porsi yang paling memungkinkan untuk dikembangkan adalah industri fashion, khususnya busana muslim. “Kalau menyejajarkan industri fashion kita dengan London, Milan, Paris, atau New York, tentu kita tertinggal. Namun dari segi potensi dan kualitas kita tidak kalah bagusnya.” jelas Gilarsi yang juga memiliki rumah mode Shafira ini. Sebagai contoh, cita-cita menjadikan Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia bukan semata-mata untuk gaya, tetapi untuk menjadikan potensi fashion Indonesia agar bisa membanggakan seluruh dunia. Pencanangan ”Indonesia sebagai Kiblat Fesyen Muslim Dunia” pada (13/08), ditandai dengan pembukaan pameran busana Muslim bertema ”Indonesia Islamic Fashion Fair” (IIFF) yang berlangsung pada awal bulan September 2010 di Plaza Indonesia Jakarta. ”Saya berharap Indonesia dapat mewujudkan misi tersebut, industri fesyen ini bila dibuat lebih kreatif produknya dapat memasuki pasar global sehingga mampu bersaing dengan produk dari negara lain,” ucap Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Edy Putra Irawady, di sela-sela peresmian acara. Sejak 2009, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sudah intens mendorong kegiatan ini dengan berbagai cara, salah satunya memfasilitasi kebutuhan para desainer dengan produsennya sehingga mereka dapat terus berinovasi lagi. Indonesia berpotensi dalam meningkatkan perekonomian industri karena memiliki keanekaragaman budaya. Dan tentunya, Indonesia harus mampu meningkatkan ekspornya dengan menjadi pencipta ’brand’ agar dapat memajukan industri kecil yang ada. Ketika industri busana muslim Indonesia sudah maju dan tertata, otomatis permintaan pun akan meningkat. Artinya, akan semakin banyak dibutuhkan tenaga kerja. Selain itu, akan banyak juga yang berkunjung ke Indonesia untuk melihat dan membeli busana muslim, sehingga akan berdampak pada pemasukan devisa negara. Jadi wacana menjadikan Indonesia sebagai pusat busana muslim di dunia bukan sesuatu mimpi yang begitu jauh untuk dijangkau. Pasalnya, jika para pemain industri mode, pemerintah, dan swasta saling bekerja sama, maka hal ini bisa segera terwujud. Omset Busana Muslim Meningkat Kebiasaan masyarakat yang mengidentikkan Lebaran dengan segala hal yang serba baru seperti baju, sepatu, membuat tingkat konsumsi meroket tajam. Hal tersebut, tentu menjadi peluang usaha yang sangat menguntungkan jika kita bisa menangkap peluang itu. Satu di antara sekian banyak bisnis yang meraup keuntungan besar di bulan ramadhan adalah usaha penjualan busana muslim. Pengelola Butik Shafira, jaringan ritel busana muslim yang memiliki sekitar 24 cabang di kota-kota besar di Indonesia, mengaku kebanjiran pesanan dari pelanggan sejak sepuluh hari sebelum puasa. Di setiap gerai Butik Shafira, disuplai 400 unit busana siap pakai setiap minggu. Dengan jumlah tersebut, selalu habis terjual. Komisaris Utama Shafira Corporation (ShafCo), Feny Mustafa yang sekaligus sebagai perancang busana muslim mengatakan, ShafCo menargetkan penjualan produk Zoya (brand Shafira), kerudung instan dan busana, untuk pasar menengah ke bawah tumbuh 20%, dibanding tahun lalu. Dan biasanya penjualan produk meningkat pada bulan sebelum dan sesudah Ramadhan. Produk bermerek Zoya yang merupakan perubahan nama dari Rumah Kerudung Lamara, terdiri dari 70% kerudung dan 30% busana dengan target pasar kelas menengah bawah. Perbedaan produk jilbabnya dengan produk lainnya yang banyak beredar di pasaran, terletak pada bahan dan desain jilbab yang sederhana dan nyaman dipakai. Seiring dengan peningkatan permintaan, variasi produknya juga bertambah dari jilbab, berkembang pada busana, dan aksesories busana muslim. Busana Muslim Indonesia Memukau World Expo Sekitar 40 busana muslim karya para perancang Indonesia memukau para pengunjung “World Expo” di Shanghai, China, sehingga tidak berlebihan jika Indonesia ingin menjadi kiblat mode busana muslim dunia. Sambutan positif masyarakat internasional terhadap busana muslim Indonesia selama ini memang tinggi dalam setiap acara peragaan busana. Keunikan ragam dan warna busana muslim buatan Indonesia mampu memadukan unsur etnik, elegan, dan modern, dalam satu garis rancang. Hal itu membuat busana muslim dapat tampil universal dan menarik siapa saja yang melihatnya. Di ajang World Expo di Shanghai, China, IIFC bersama delapan perancang busana muslim tanah air yaitu Dian Pelangi, Nunik Mawardi, Merry Pramono, Jeny Tjahyawati, Irna Mutiara, Malik Moestaram, Shafira dan Hanny Hananto, melakukan pagelaran mode dan pameran di Paviliun Indonesia, pada 17 – 20 Agustus 2010. Busana yang dipamerkan, mampu memikat para pengunjung yang sebagian besar tidak berasal dari negara muslim. Kenyataan itu, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi delegasi IIFC yang aktif mengkampanyekan pentingnya Indonesia menjadi kiblat mode busana muslim di dunia tersebut. Dengan upaya ini, diharapkan akan memberikan dampak positif bagi perekonomian dalam negeri. Selain memberi nilai tambah bagi kualitas daya saing industri kreatif dan tekstil Indonesia, tentu juga akan berkontribusi terhadap upaya mengurangi angka pengangguran serta upaya mengembangkan kualitas sumber daya manusia dalam kaitan pengembangan industri kreatif di tanah air. (eks)

Disinilah muncul beberapa peluang bagi kita praktisi IT untuk berkarya sekaligus berbisnis, gampangnya semisal:

  • menyediakan media marketing yang memiliki jaringan global, apalagi kalau bukan Website?.
  • menyediakan POS (Point of Sales) Application untuk kegiatan operasional usaha.
  • dll.

Nah, bagaimana? tertarik dengan peluang yang ada? Mari berkarya!

Perihal kelaskakap
"Ada yang ingin jadi bintang?...... walaupun memang tidak mudah Cahayanya di malam kelam memang kalah dengan rembulan, namun mereka senantiasa menjadi hiasan langit sehingga langit tampak begitu gemerlap dan mereka menjadi petunjuk arah bagi orang-orang yang tersesat."

2 Responses to Selalu ada peluang

  1. gamis murah says:

    makasih infonya mudah2an bermanfaat bagi para pembaca. 🙂
    salam kenal yach 🙂
    Gamis Murah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: